Batal Motoran, Tim Satutenda Jalan Kaki dari Kampung Arab hingga Gunung Kencana

Jalan Kaki dari Kampung Arab hingga Gunung Kencana, Satutenda.com – Pendakian kali ini bisa dikatakan pendakian dengan jalan kaki terpanjang. Tim Satutenda jalan kaki dari Kampung Arab hingga Gunung Kencana.

Sebabnya adalah seorang teman tiba-tiba batal berangkat, hanya dua hari sebelum keberangkatan. Rencana semula, kami akan berangkat ke basecamp Gunung Kencana menggunakan motor. Total berempat jadi kami akan membawa dua motor.

Tapi karena teman kami itu batal berangkat, maka niat motoran ke basecamp Gunung Kencana pun tak terwujud. Jadilah kami melakukan aksi nekad untuk jalan kaki dari Kampung Arab hingga ke Gunung Kencana.

BACA: Motoran Ke Gunung Kencana, Semacam Menjaga Konsistensi

Menurut beberapa sumber yang kami baca, lama perjalanan dari Kampung Arab ke basecamp Gunung Kencana sekitar lima jam. Setelah itu, pendakian ke atas puncak Kencana butuh 45 menit hingga satu jam. Meski demikian, tekad kami bulat. Kami harus ke Gunung Kencana.

Hari itu, 11 September 2018, Jakarta sedikit lengang oleh libur Tahun Baru Islam. Sekitar pukul 17.00 WIB kami bertiga berangkat dari Jakarta. Oleh karena minim informasi soal bus rute Jakarta – Cianjur via puncak, jadilah perjalanan kami memutar dan memakan waktu sangat lama.

Kami baru tiba di Kampung Arab pukul 02.30 WIB, 12 September 2018. Jalur masuk ke Gunung Kencana ada dua yakni via Telaga Warna dan via Kampung Arab/Tugu Puncak. Jalur Telaga Warna adalah yang paling umum karena sering dilewati oleh pendaki yang menggunakan motor atau mobil. Sementara jalur Kampung Arab, bukan jalur populer bagi para pendaki.

Tapi kami sengaja memilih jalur ini lantaran setelah kami cek di google map petunjuknya sangat jelas hingga ke Kampung Cikoneng – kampung terakhir menuju basecamp.

Tepat pukul 03.00, kami beranjak dari Alfamart, tempat kami rehat sejenak dini hari itu. Kami menyusuri jalan yang masih sepi. Di kiri dan kanan vila-vila bertebaran. Rupanya, para turis Arab sering menyewa vila-vila di sekitar situ sehingga jadilah wilayah itu diberi nama Kampung Arab.

Setelah berjalan sekitar satu jam, sampailah kami di jalur yang agak sepi. Vila-vila mulai jarang, sementara adzan subuh mulai berkumandang. Jalanan masih sangat sepi dan kami hanya mengandalkan petunjuk dari maps.

Ketika hendak menyudahi perkampungan penuh vila itu, kami melihat dua remaja di dalam mobil di depan sebuah vila. Salah satu teman kami mendekati mereka untuk bertanya arah ke SD Cikoneng/Kampung Cikoneng.

Rupanya dua remaja ini sudah familiar dengan para pendaki Gunung Kencana via jalur ini. Ketika teman kami bertanya, keduanya langsung turun dari mobil dan menunjukan arah yang harus kami lalui. Tak lupa pula mereka berpesan agar kami hati-hati di jalan.

BACA: Waspada! Ini Barang Bawaan Pendaki yang Sering Hilang Di Gunung

Dalam hati kami senang merasakan ketulusan kedua remaja ini. Ya namanya juga sedang berada di tempat yang baru, ketika ada orang yang mau membantu tentu kita sangat senang.

Kami melanjutkan perjalanan, mengikuti petunjuk dua remaja tadi. Jalanan sedikit gelap sehingga kami harus menggunakan senter. Vila yang jarang di sini kiri dan kanan jalan masih tampak sepi.

Jalan Kaki Ke Gunung Kencana
Di sebuah bukit, di ujung Kampung Arab, Puncak (Foto: Satutenda.com)

Pukul 05.00 WIB, kami tiba di ujung perkampungan penuh vila tadi. Di sana ada simpang empat. Kami sedikit bingung, jalur mana yang harus kami pilih. Maka daripada bingung memilih jalan, kami malah foto-foto.

Dari tepi perempatan ini kita bisa melihat kota Cisarua dan sekitarnya berada di bawah sana. Gemerlap lampu kota membuat pemandangan pagi itu sangat indah. Kami tak ingin melewatkan kesempatan tersebut.

Sambil menunggu terang, kami menghabiskan waktu untuk berpose ceria sembari bersenda gurau. Harapan kami, ketika sudah terang ada orang yang melintas sehingga kami bisa bertanya jalur ke Kampung Cikoneng.

Namun hingga betul-betul terang, tak ada juga seorang pun melintas. Akhirnya, lagi-lagi mengandalkan petunjuk maps, kami melanjutkan perjalanan. Tak jauh dari situ kami memasuki perkebunan warga.

Di sebuah simpang dua, kami sempat bertanya ke seorang adik SMP yang kebetulan dia hendak berangkat ke sekolah. Katanya, dua jalur itu sama-sama menuju Desa Cikoneng. Tapi kalau mau lebih singkat, ambil jalur kiri.

Menuju Kampung Cikoneng Gunung Kencana
Simpang dua menuju Kampung Cikoneng (Foto: @jepretkaks)

Jalur ini pun membawa kami sampai masuk-masuk ke kebun warga. Kami sempat kebingungan karena sepertinya tidak ada jalur untuk tembus. Di saat kami kebingungan, tiba-tiba lewat seorang bapak. Kami langsung bertanya jalan ke Desa Cikoneng. Ia pun menunjukan jalan.

Katanya, tinggal sekilo lagi sudah sampai Desa Cikoneng. Kami pun mengikuti petunjuk si bapak tadi dan memasuki kebun teh. Waktu sudah menunjukan sekitar pukul 07.00 WIB.

Seorang anggota kami sudah lama memendam hasrat untuk melihat kebun teh. Dan, tentu saja ingin mengabadikan sabana pohon teh pagi itu dalam foto-fotonya. Jadilah kami menikmati perjalanan sembari berfoto ria. Baru sekitar pukul 08.00 kami tiba di Kampung Cikoneng.

Para penduduk Desa Cikoneng, yang mayoritas adalah para pemetik teh, baru saja merampungkan kerjaan mereka. Pucuk-pucuk teh hasil panen sudah ditumpuk di tepi jalan ketika kami tiba. Kata mereka, sebentar lagi truk akan datang untuk menimbang dan mengangkut hasil panen itu.

Kami pun melepas carrier dan mengobrol dengan ibu-ibu di situ. Sebagian dari mereka tetap melanjutkan pekerjaan memetik pucuk teh. Obrolan kami makin lama makin hangat hingga ke penghasilan yang mereka peroleh dari pekerjaan memetik teh, cara mengolah teh secara tradisional, dan lain sebagainya.

Bersama ibu-ibu Desa Cikoneng usai memetik teh
Bersama ibu-ibu Desa Cikoneng usai memetik teh (Foto: Satutenda.com)

Tak lupa pula kami sempat mencicipi teh hasil olahan para ibu. Rasanya sangat segar. Apalagi setelah perjalanan panjang sejak dini hari tadi hingga pagi itu. Meski tanpa gula, rasa tehnya sangat kental dan harum.

Ini merupakan pengalaman pertama minum teh di perkebunan teh. Pun teh yang diolah secara tradisional dan jauh dari campuran bahan kimia atau sejenisnya.

Setelah minum teh dan istirahat sekitar sejam kami berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Seorang ibu yang tadi menawarkan tehnya buat kami minum menggoda kami untuk tidak melanjutkan perjalanan.

“Atau ke Gunung Luhur saja. Lebih dekat. Kalau Gunung Kencana ma jauh, harus jalan lagi sekitar sejam,” katanya. Gunung Luhur adalah salah satu gunung yang sangat dekat dengan Kampung Cikoneng.

Kata ibu-ibut itu, dulu sebelum Gunung Kencana sepopuler sekarang banyak orang yang mendaki Gunung Luhur. Tapi saat ini sudah sepi karena pendaki beralih ke Gunung Kencana.

Tapi tentu saja kami menolak dengan cara yang sangat halus. Bahwa niat kami adalah mendaki Gunung Kencana, maka biarlah kami tetap kesana. Seorang pemuda bernama U’us menjelaskan secara detail jalur yang harus kami tempuh.

Katanya, “ikuti saja kabel listrik. Itu akan sampai ke basecamp”. Kami pun kembali melangkah.

‘Perjalanan kedua’ ini rasanya cukup melelahkan karena rasanya jauh sekali. Kelokan demi kelokan kami lalui, tapi basecamp Gunung Kencana tak juga tercapai. Dari kejauhan hanya bendera merah putih yang berkibar di antara hamparan hijau daun teh.

Kebun Teh Basecamp Gunung Kencana
Kebun Teh Basecamp Gunung Kencana (Foto: @jepretkaks)

Dalam hati, ‘ya ampun ini jalan kok nggak sampai-sampai ya. Jauh benar’. Sesekali kami coba mengusir lelah dengan canda tawa atau cerita-cerita lucu.

Matahari yang mulai meninggi membuat rasa lelah kian terasa. Kami sempat beristirahat beberapa kali di tepi jalan. Sejauh mata memandang hanya hamparan kebun teh yang meliuk-liuk mengikuti kontur bukit.

Perlahan namun pasti langkah kami terus terayun. Tak lama kemudian sampailah kami di tempat penitipan motor. Di situ ada sekitar lima rumah. Para pendaki yang menggunakan motor atau mobil, wajib menitipkan motor atau mobilnya di situ.

BACA: Pantai Watu Maladong, Wisata di Sumba dengan Pesona Batu Karang Eksotis

Sementara kami tetap melanjutkan perjalanan. Basecamp sudah di depan mata, semangat kembali mencuat. Sekitar 20 menit kemudian kami tiba di basecamp. Waktu menunjukan pukul 09.50 WIB.

Kami beristirahat sejenak kemudian mengurus SIMAKSI Gunung Kencana dan mengambil air. Tepat pukul 10.30 WIB, kami menapaki Tanjakan Sambalado.

Kami berjalan sangat pelan karena seorang anggota kami merasa kurang enak badan. Lagi pula kami belum sempat makan sejak pagi sehingga tubuh sedikit lemas. Semula kami berniat untuk makan kalau sudah di puncak.

Tapi rupanya perut tidak bisa diajak kompromi. Kami pun berhenti untuk mengisi perut dengan roti tawar dan susu coklat yang sudah kami siapkan. Rasanya kembali bertenaga setelah masing-masing kami menghabiskan empat potong roti.
Pukul 11.30 kami tiba di Puncak Gunung Kencana. Di sana masih ramai oleh pendaki. Tapi tak lama setelah kami tiba, mereka bersiap untuk turun. Jadilah kami bisa mendapatkan area yang cukup untuk mendirikan tenda, beristirahat, sembari menantikan senja di puncak Gunung Kencana.

Inilah cerita Tim Satutenda jalan kaki dari Kampung Arab hingga Gunung Kencana. Mudah-mudahan menginspirasi kamu.

Pesan kami, jangan sampai tekadmu kendor hanya karena perubahan situasi. Bila masih ada kesempatan untuk mewujudkan tekadmu, perjuangkanlah itu meski beberapa hal harus dikorbankan!

Bagikan Artikel Ini:
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  

3 thoughts on “Batal Motoran, Tim Satutenda Jalan Kaki dari Kampung Arab hingga Gunung Kencana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *