Cerita Pendakian Ke Gunung Slamet Via Gunung Malang yang Diterpa Badai

Cerita Pendakian Ke Gunung Slamet Via Gunung Malang yang Diterpa Badai, Satutenda.com – Pendakian ke gunung Slamet adalah bagian dari perjalanan tim Satutenda yang kesekian kalinya. Tapi, dari semua pendakian yang sudah dilalui, baru kali ini kami gagal menuju ke puncak.

Saat awal memulai pendakian dari basecamp, cuaca cerah dan tidak ada tanda-tanda akan turun badai. Kami pun melangkah tanpa dihantui rasa khawatir.

Karena kami memang berniat untuk ngecamp di pos 1 Wadas gantung, maka sepanjang perjalanan dari basecamp menuju pos 1 kami lakukan dengan santai tanpa tergesa.

Sambil berjalan, kami juga memotret dan mengambil beberapa video sebagai bahan untuk channel youtube kami.

Pendakian gunung Slamet 2019
Pendakian gunung Slamet 2019 (Foto : Instagram.com/satutendacom)

Kurang lebih 1 jam perjalanan, kami akhirnya tiba di pos 1, Wadas Gantung. Anggota tim kami yang lain mulai mendirikan tenda, dan sebagiannya mengambil air minum yang letaknya tak begitu jauh dari pos 1.

Sekitar pukul 17:00, kabut perlahan naik dan langit sore yang awalnya cerah mulai mendung dan gelap.

Melihat cuaca yang tiba-tiba berubah, kami memutuskan untuk segera memasak dan langsung tidur, karena perjalanan esok masih sangat panjang.

Bushcraft Satutenda
Bushcraft Satutenda (Foto : youtube.com)

Ketika malam semakin larut, hujan dan angin kencang mulai menimpa tenda kami. Rasanya tenda kami hampir copot saat itu.

Hal demikian terulang lagi pada malam kedua saat kami ngecamp di pos 6, Pondok Tanganan. Meski tenda kami sedikit terlindungi dari pohon-pohon, namun tetap saja, hujan deras dan angin kencang terus menghantui tidur kami malam itu.

Rencana kami yang awalnya hendak sumit pada jam 03:00 dini hari pun batal. Mau tak mau, kami harus menunggu cuaca berbaik hati pada kami.

Sekitar pukul 06.00 hujan dan angin mulai mereda. Cuaca terlihat cerah dan tak ada pertanda akan ada badai besar.

Dengan senang hati, kami mulai mempersiapkan diri menuju puncak. Sekitar pukul 07:30 kami mulai melanjutkan perjalanan. Dari pos 6 menuju pos 7, yang adalah pos terakhir sebelum mencapai puncak, kami menempuhnya dalam kurun waktu 30 menit.

Sialnya, saat tiba di pos 7 kabut disertai gerimis perlahan unjuk diri. Tapi, perjalanan tetap dilanjutkan sebab pikirnya kami, gerimis dan cuaca ini pasti akan segera berlalu.

Pos VII gunung Slamet via gunung Malang
Pos VII gunung Slamet via gunung Malang (Foto : Satutenda.com)

Meski diguyur gerimis, kami tetap memantapkan hati dan bertekad akan ke puncak. Ketika berada tepat di batas vegetasi, kami sempat memilih jalur umum yang biasa digunakan untuk menuju puncak. Namun sayang sekali, angin kencang dan gerimis tak membolehkan kami.

Akhirnya kami melipir ke arah tebing. Jalurnya cukup teral dipenuhi batu dan kerikil hasil letusan gunung Slamet.

Meski begitu, kami tetap saja kewalahan karena jarak pandang mulai tertutup kabut. Kali ini, alam rupanya benar-benar tak mau bersahabat dengan kami.

Sebab, semakin kami memaksakan diri untuk terus melangkah, hujan dan cuaca pun terlihat semakin memburuk. Kami disambut dengan angin kencang ditemani kabut tebal.

Perjalanan masih kami teruskan, hingga kurang 15 menit lagi kami akan tiba di puncak, cuaca benar-benar tidak bisa diajak kompromi kala itu. Badai semakin kencang menerjang kami.

Track menuju puncak Gunung Slamet
Track menuju puncak Gunung Slamet (Foto : Satutenda.com)

Melihat kondisi ini, kami saling tatap dan memilih untuk melanjutkan pendakian atau turun? Akhirnya, dengan berat hati kami bulatkan tekad untuk turun.

Jika ditanya kecewa atau tidak? Sudah pasti jawabannya kecewa karena sudah sejak lama kami merencanakan perjalanan ini dan salah satu tujuan kami adalah bisa menginjakkan kaki di puncak tertinggi Jawa Tengah itu.

Tapi setelah merenung sejenak, kami perlahan mulai mengikhlaskan kegagalan perjalanan kami kali ini dan mencoba mengambil sisi positif dari hasil traveling kali ini.

Ada beberapa hal yang kami simpulkan dari pendakian ke gunung Slamet via gunung Malang ini, yang mungkin bisa dijadikan bahan pertimbangan bagi kamu yang hendak mendaki gunung Slamet dengan jalur yang sama seperti kami.

  • Harus pandai memasang tenda agar tidak copot ketika diterpa angin kencang
  • Jangan memasang tenda di area yang terlalu terbuka
  • Selalu waspada jika sewaktu-waktu terjadi angin kencang, terlebih saat malam hari.
  • Harus pandai membaca cuaca entah itu angin, hujan, kabut tebal, dll, sehingga tidak terjebak badai di tengah pendakian.
  • Tidak usah memaksakan diri untuk sampai ke puncak jika cuaca benar-benar buruk
  • Jangan lupa kenakanlah jas hujan sehingga tidak mudah terserang hipotermia

Itulah beberapa hal positif yang bisa kami share ke teman-teman pengunjung Satutenda.com yang hendak mendaki di musim hujan. Semoga bermanfaat. Salam lestari, salam satutenda.

Berikut ini adalah video perjalanan kami saat diterpa badai saat hendak menuju puncak gunung Slamet.

Bagikan Artikel Ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *