Pengalaman Pertama Mendaki Gunung Lintas Jalur Gunung Gede – Pangrango 2019

Mendaki Gunung Lintas Jalur, Satutenda.com – Dulu, ketika saya baru pertama kali melihat beberapa orang mendaki gunung lintas jalur, saya sangat kagum. Saya membayangkan, betapa kuatnya mereka menggendong keril dari bawah hingga ke puncak gunung, lalu turun lewat jalur di seberangnya.

Umumnya kan pendaki naik hingga ke pos terakhir atau beberapa pos sebelum ke puncak, lalu nge-camp di situ. Keesokan harinya barulah pendaki naik ke puncak tanpa membawa barang bawaan. Kita mengenalnya summit.

Itu juga yang sering saya lakukan saat memulai traveling mendaki gunung; mulai 2009. Jadi, kalau bertemu dengan mereka yang lintas jalur, saya langsung kagum.

Setelah menyimpan kekaguman itu cukup lama, akhirnya saya dan tim Satutenda.com mencobanya.

Kali ini kami mendaki gunung lintas jalur di Gunung Gede. Kebetulan, ada seorang teman baik yang ikut mendaki dan ia membawa mobil. Jadilah kami menggunakan mobilnya hingga ke basecamp.

Untuk pendakian Gunung Gede kali ini, kami memilih pintu masuk Gunung Putri dan akan keluar melalui pintu Cibodas.

Kami bertolak dari Jakarta, Senin malam, 20 Mei 2019; dua hari menjelang pengumuman pemenang Pemilu Presiden. Agak penasaran sih pengen lihat secara langsung kota Jakarta saat pengumuman itu. Pasalnya sudah ada isu berkembang bahwa akan ada demo besar-besaran.

Tapi, buat apa? Toh yang menang sudah ketahuan di situs resmi KPU. Yang mau demo silakan. Kita mah pilih menikmati alam.

Pukul 21.30 WIB, kami meninggalkan Jakarta. Teman yang mengenderai mobil pun memilih jalan santai, tak harus buru-buru. Kami tiba di basecamp Gunung Putri sekitar pukul 01.30, dan langsung memilih rumah Abah Anwar sebagai tempat rebahan menghabiskan malam yang masih tersisa.

Start mendaki gunung lintas jalur

Keesokan paginya, setelah mengurus SIMAKSI yang cukup menguras kondisi hati itu, kami memulai pendakian. Cuaca cerah. Atau lebih tepat sangat terik. Hanya saja angin di kaki gunung biasanya terasa sejuk. Tapi tau-tau kulit gosong saat sudah kembali ke Jakarta. Biasanya sih begitu …. Hehehehe

Mendaki Gunung Lintas Jalur Gunung Gede 2019
Rekan sependakian (Foto: Satutenda.com)

Perjalanan awal kami lalui dengan santai. Bayangkan untuk sampai ke pos 1 saja kami butuh sekitar satu jam empat puluh lima menit. Pendakian normal, katanya hanya butuh waktu satu jam. Tapi okelah, kami memilih untuk menikmati perjalanan ketimbang buru-buru.

Lagipula, selepas kebun warga kita sudah berjalan di bawah rimbun pohon yang cukup rapat. Jadi otomatis terasa sejuk. Meski napas ya tetap aja satu-satu…. Namanya juga mendaki gunung bro. Kalau nggak mau capek ya mendaki pelaminan aja… ups…. (*kembali ke topik)

Selepas pos 1 kami coba untuk sedikit meringankan langkah. Untuk sampai di pos 2 kami hanya butuh setengah jam. Nah, sudah lebih cepat nih…

Saat istirahat di pos 2, waktu sudah menunjukan hampir jam 12 siang. Seorang teman sempat menawarkan untuk makan siang di situ saja. Hanya kalau dipikir-pikir, ini belum setengah jalan chui

Biasanya setelah makan siang, perut kenyang dan terasa ngantuk sehingga mempengaruhi langkah. Bawaannya akan lebih lambat. Gimana kalau makan siang di pos 3 saja? Ayok… semua sepakat, makan siang di pos 3.

Ternyata tiga orang dari total lima anggota kelompok terlampau semangat ingin cepat sampai pos 3. Jadilah hanya butuh 45 untuk tiba di sana. Sementara dua teman lagi tiba hampir satu jam setelahnya. Lama amat, kasihan yang nunggunya.

Untung bukan nungguin jawaban kamu …. Eaaa….

Makan siang dulu kita

Di pos 3 kami makan siang. Mie kuah dan abon sapi terasa sangat nikmat dan tentu saja bisa angetin badan yang terasa sangat dingin. Sementara nasi sudah kami tanak pagi tadi sebelum mendaki. Jadi kami bisa berhemat air karena tidak harus menanak nasi.

Pos 3 jalur Gunung Putri Gunung Gede
Makan siang (Foto: Satutenda.com)

Selepas makan siang, kami melangkahkan kaki lagi. Kali ini terasa semakin berat. Selain karena jalur makin nanjak, perut terasa berat, juga tenaga mulai terkuras. Pelan-pelan kami coba mencapai tikungan demi tikungan.

Cuaca terus berganti, kadang mendung kadang sangat terang. Udara dingin kian menusuk kulit seiring posisi kami yang semakin tinggi. Satu rombongan, sekitar lima orang, yang melewati kami di pos 3 pun kami susul.

Setelah itu tak ada lagi pendaki lain. Maklum kami mendaki pas Bulan Puasa, juga di hari kerja. Jadi tak banyak pendaki yang nanjak ke Gunung Gede via jalur ini. Sebelum pos banyangan yang terletak antara pos 3 dan pos 4 ada satu tenda dengan tiga pendaki. Mereka nge-camp di situ dari semalam.

Usai ngobrol sebentar, kami melanjutkan perjalanan. Huh… rasanya kian lelah, sementara tanda-tanda pos 4 belum juga terlihat. Kami sadar, langkah kami sangat lambat. Itu ketahuan dari waktu yang kami butuhkan untuk sampai ke pos 4. Satu jam 50 menit. Wow…. lama pakai banget….

Setengah lima kami lanjut menuju Suryakencana. Kami memasang target untuk sampai ke Suryakencana sebelum matahari terbenam. Biar bisa menyaksikan sunset di sana.

Tiba di Suryakencana

Suryakencana saat senja
Suryakencana waktu sunset (Foto: Satutenda.com)

Demi berburu sunset 30 menit sudah cukup untuk menjejakan kaki di Suryakencana alias Surken. Kami sungguh menikmati udara sore bersama matahari yang bergerak perlahan menghilang dari pandangan. Tak lupa kami abadikan momen sore itu.

Bagi kami, manyaksikan sunset dan sunrise di Surken adalah momen yang sangat kami impikan. Sebab, selelah apa pun pemandangan itu bisa menggantikannya. Serius nggak bohong… kalau kamu belum pernah, cobain deh…

Setelah semua tim lengkap mencapai Surken, kami berjalan sedikit ke tengah untuk mendirikan tenda. Kami memilih nge-camp agak ke tengah karena stok air kami sangat sedikit. Kami harus mengambil air buat masak malam dan esok pagi. Juga, persiapan untuk lanjutin perjalanan, mendaki gunung lintas jalur besok pagi.

Kebetulan sekali, di tengah-tengah Surken ada saluran air (mata air) yang masih hidup. Kami baru tahu kalau di situ ada air. Biasanya, sumber air di Surken ada di pas jalur mau ke puncak Gede. Ada petunjuknya kok.

Sunset di Suryakencana Gunung Gede 2019
Sunset di Suryakencana (Foto: Satutenda.com)

Tapi karena sudah ada sumber air yang lebih dekat, kami langsung mengambil air di situ dan melipir sedikit ke pinggir untuk mendirikan tenda.

Malam terasa sangat sepi. Di atas sana bintang-bintang bertaburan, tanda malam akan sangat cerah. Bulan perlahan menampakkan sebagian cahaya ketika kami membentang sleeping beg untuk tidur.

Bagaimana pengalaman perjalanan mendaki gunung lintas jalur selanjutnya? Simak artikel berikut: Muncak Dua Gunung dalam Sehari: Gede – Pangrango 2019.

Bagikan Artikel Ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

1 thought on “Pengalaman Pertama Mendaki Gunung Lintas Jalur Gunung Gede – Pangrango 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *