Ini 5 Hal yang Membedakan Pendaki Pemula dan Pendaki Senior versi Satu Tenda

Perbedaan Pendaki Pemula dan Pendaki Senior, Satutenda.com – Saya tertarik untuk menulis tentang perbedaan pendaki pemula dan pendaki senior, setelah saya kembali aktif di dunia pendakian gunung selam tiga tahun terakhir.

Sejak 2017, saya kembali menekuni hobi mendaki gunung. Kegiatan outdoor ini pernah saya gandrungi semasa kuliah. Ketika itu saya baru berkenalan dengan kegiatan yang satu ini di kampus, dan saya langsung suka.

Tapi, setelah menyelesaikan kuliah pada 2011 dan terjun ke dunia kerja, hobi ini terhenti. Selain karena sibuk bekerja, rasa-rasanya tidak punya cukup motivasi untuk ke gunung lagi. Lagipula teman-teman kuliah sudah terpencar ke mana-mana; mungkin ada juga yang sudah ganti hobi.

Hingga pada akhirnya saya bertemu kembali dengan orang-orang yang punya minat di dunia pendakian. Teman-teman inilah yang saat ini menjadi partner membangun Satutenda.com.

Selama menjalani “periode kedua” di dunia pendakian gunung tersebut, saya tertarik untuk menulis tentang perbedaan pendaki pemula dan pendaki senior. Tapi di sini saya tidak bermaksud untuk membeda-bedakan, apalagi merendahkan mereka yang baru belajar mendaki gunung.

Saya menulis ini hanya untuk bercerita tentang pengalaman pribadi, sembari berbagi apa yang satu temui. Siapa tahu kita bisa saling belajar, yang baru mulai belajar dari mereka yang sudah senior di dunia pendakian.

Sejauh ini, secara pribadi saya sudah bisa membedakan mana orang yang baru awal mendaki dan mana orang yang sudah berulang kali mendaki.

Setelah saya identifikasi pengalaman perjumpaan saya dengan macam-macam orang selama pendakian, setidaknya ada 5 hal yang saya temukan sebagai ciri khas sekaligus membedakan pendaki pemula dan pendaki senior.

1. Mudah menyapa

Saya melihat bahwa mereka yang sudah biasa mendaki akan mudah menyapa orang yang ia jumpai di jalan atau juga orang yang sudah lebih dulu ada di area camp/pucank. Entah kenal atau tidak, mereka lebih suka say hallo dengan siapa saja.

Sementara mereka yang baru pertama mendaki, agak jarang untuk menyapa. Mungkin karena lelah di perjalanan atau belum terbiasa.

2. Peduli dengan sampah

Seseorang yang sudah biasa mendaki pasti dengan mudah membawa sampahnya turun atau memungut sampah di sekitar tempat ia mendirikan tenda untuk dibawa turun. Sedapat mungkin ia tidak akan meninggalkan sampah.

Tentang sampah, sejauh saya lihat sudah menjadi persoalan serius di beberapa gunung, khususnya gunung-gunung yang memiliki ketinggian di bawah 2.000 mdpl. Kalau kita mendaki gunung-gunung ini sampah berserakan di mana-mana.

Perbedaan Pendaki Senior dan Pendaki Pemula - Satu Tenda
(Foto: Satutenda.com)

Saya tidak bermaksud menuduh para pendaki pemula yang meninggalkan sampah di sana. Ada juga pendaki senior yang nyampah juga. Namun, bila diamati dengan serius, sampah di gunung banyak ditinggalkan oleh mereka yang baru belajar di dunia pendakian, terlebih mereka yang bukan datang dari kelompok pencinta alam atau mapala.

3. Lebih suka waktu hening

Ketika mendaki gunung Kencana minggu lalu, saya sempat bercerita dengan seorang kenalan baru dari Parung, Bogor. Kami berbagi pengalaman seputar dunia pendakian. Dalam obrolan itu saya bilang, saya suka suasana tenang ketika di gunung.

Ia langsung menjawab, orang yang sudah sering mendaki gunung biasanya begitu. Mereka lebih suka waktu tenang saat nge-camp. Dan beberapa kali saya mendapatkan jawaban seperti ini dari orang yang berbeda-beda.

Hal ini membuat saya sedikit yakin bahwa mereka yang sudah senior di dunia pendakian jarang ribut saat berada di gunung, entah itu berbicara dengan suara keras atau menyetel musik keras-keras.

4. Mau berbagi

Seorang pendaki senior akan mudah membagikan beras, sayur, kopi, dan bahan konsumsi lainnya kepada sesama pendaki saat ia mau turun. Ia akan membagi-bagikan konsumsi yang lebih kepada mereka yang masih tinggal atau baru mau naik.

Saya mengalami hal ini berulang kali, waktu mendaki gunung Ciremai, gunung Gede, dan Gunung Kencana. Bahkan orang-orang ini terkesan “maksa” agar kita mau menerima pemberian mereka.

5. Mengerti pantangan

Meskipun tidak tertulis, dalam praktinya ada beberapa pantangan yang diamini oleh para pendaki yang sudah berlang kali naik gunung.

Salah satu yang paling mencolok adalah tidak akan meminta makanan atau air kepada pendaki yang baru naik. Saat kita yang baru naik berpapasan dengan pendaki senior yang baru turun, entah di jalan atau sedang sama-sama rehat, mereka tidak akan menerima tawaran makanan atau minuman yang kita kasih.

Bagi mereka, pendaki yang sudah turun tidak membutuhkan banyak konsumsi ketimbang dengan mereka yang baru naik.

Selain itu, mereka juga akan memberi semangat kepada pendaki yang baru naik. Misalnya dengan menceritakan ‘yang baik-baik tentang jalur’ atau memberitahu ‘sudah dekat kok’, dan lain sebagainya.

Kadang kita menganggap kita dibohongi. Tapi itulah salah satu cara untuk memberikan dukungan kepada mereka yang baru naik agar tetap semangat nanjak.

Inilah 5 perbedaan pendaki pemula dan pendaki senior. Sekali lagi, ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi yang tidak bisa digeneralisir. Ada juga pendaki pemula yang lebih ‘paham tata krama’ ketimbang pendaki senior.

Intinya adalah kita belajar untuk saling menghargai, berbagi, dan menyemangati dalam keadaan senang dan susah. Di alam dan bersama alam, kita adalah satu keluarga.

Bagikan Artikel Ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

9 thoughts on “Ini 5 Hal yang Membedakan Pendaki Pemula dan Pendaki Senior versi Satu Tenda

  1. Sebagai orang yang belum pernah mendaki gunung, ini info penting dan berharga untuk kelak siapa tau tertarik dunia pendakian.. Sejauh ini baru trekking2 ke air terjun aja. Pernah juga sih ke puncak gunung, tapi gunung bromo wkwk..

    -Traveler Paruh Waktu

    1. Terima kasih Kak Bara Anggara. Semoga impiannya terwujud ya Kak. Bila jadi nanjak nanti bisa kabar-kabari. Siapa tahu waktunya cocok. Hehehehehe

  2. Mulai mendaki tahun 2011, terus keranjingan pas mulai masuk dunia kerja. 2013 – 2014 masa kejayaan, hampir tiap bulan naik gunung. Begitu nikah langsung gantung keril, pernah sih sekali naik Gunung Gede di Oktober 2017, tapi suasananya udah ga asik. Ramai banget, lagi butuh ketenangan tapi tenda sebelah pada nyalain musik keras – keras.

    Bakalan naik gunung lagi kalau waktu sudah bukah lagi penghalang (mendaki saat weekday)

    1. Mantap Kak,,,, ya begitulah. Tantangan terbesar kita sekarang adalah banyak sekali pendaki yang datang ke gunung bukan untuk menyatu dengan suasana alam, menimba energi dari alam untuk dibawa pulang sebagai penyemangat. Tapi membawa kebiasaan di kota pindah ke gunung. Rasanya nggak mungkin kita melarang orang-orang seperti ini, meski perlahan-lahan diajak ngobrol. Kita sendirilah yang akhirnya bersuha menyesuaikan diri, ya termasuk mendaki di weekday itu Kak. Moga suatu saat bisa berteman saat mendaki ya Kak.

  3. Hello,

    I hope you are well. I have had a colleague pass over your details to me regarding your website in the hope you’d be interested in accepting a great article I am working on?

    Would you be able to let me know what your lowest budgets are to publish content on your blog, please? I write informative articles for websites readers, not just for Google and Include good research.

    I would be linking to Compare the Market and my budget is between £50- £100 GBP.

    Eagerly awaiting for your response

    Thanks,

    Andre William
    WMG Agency
    https://www.wmgagency.co.uk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hubungi Satutenda.com
Kami menyediakan aneka informasi seputar dunia traveling. Anda butuh bantuan?
Powered by