Miris! Praktik Calo SIMAKSI Gunung Gede – Pangrango Masih Terjadi Meski Sudah Ada Aturan Online

Praktik Calo SIMAKSI Gunung Gede – Pangrang, Satutenda.com – Saya menuliskan praktik calo SIMAKSI Gunung Gede – Pangrango ini berdasarkan pengalaman saya dan tim Satutenda.com minggu lalu, ketika mendaki Gunung Gede – Pangrango.

Sebetulnya, informasi soal praktik calo SIMAKSI di gunung Gede – Pangrango ini sudah saya dengar beberapa kali, dan juga menemukan beberapa tulisan singkat di media sosial.

Akhir April 2019 lalu, ketika saya mendaki gunung Kencana, saya mendengar lagi cerita tentang praktik calo SIMAKSI gunung Gede – Pangrango tersebut dari seorang kenalan baru. Mendengar itu saya pun bertanya soal berapa biaya kalau menggunakan calo. Kebetulan saya rencana untuk mendaki gunung Gede – Pangrango dalam waktu dekat.

Tiga minggu setelahnya, saya dan tim Satutenda.com melakukan SIMAKSI untuk pendakian gunung Gede – Pangrango. Kami melakukan SIMAKSI secara online, masuk melalui jalur Gunung Purti dan akan keluar melalui Cibodas. Kami mendaki pas Bulan Puasa dan di hari kerja, Selasa – Kamis.

BACA: Pendakian Gunung Gede-Pangrango 2019 Lintas Jalur

Pagi hari saat kami mau melakukan pendaftaran masuk kawasan TNGGP di situlah saya menemukan praktik calo SIMAKSI gunung Gede – Pangrango itu benar-benar terjadi. Kalau selama ini saya hanya mendengarkan cerita atau membaca di media sosial, sekarang benar-benar terjadi di depan mata.

Ceritanya begini. Pagi itu, sekitar pukul 07.30, kami berlima menggendong keril dari rumah Abah Anwar menuju basecamp untuk menyerahkan berkas izin masuk TNGGP. Tiba di sana, kami diminta turun kembali ke bawah untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di Kantor Kehutanan.

Pemeriksaan Kesehatan SIMAKSI Gunung Gede
Pemeriksaan Kesehatan (Foto: Satuenda.com)

Ternyata kami lupa melakukan pemeriksaan kesehatan. Jadi sebelum ke pintu masuk kita harus terlebih dahulu periksa kesehatan dan menukarkan SIMAKSI yang kita dapatkan saat melakukan pendaftaran online dengan SIMAKSI dari Kantor Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Saat kami hendak menyimpan keril sebelum turun, datang satu kelompok lagi dengan tujuan sama yakni melakukan pendaftaran masuk. Mereka sekitar lima orang yang membawa keril, sementara satu orang berjalan santai tanpa barang bawaan. Di tangannya ada sepotong kertas.

Orang tak berkril ini rupanya sudah kenal sama petugas basecamp, terlihat dari cara mereka saling menyapa. Tampanya akrab. Saat ia mau menyerahkan potongan kertas di tangannya itu, petugas langsung berbisik “sebentar”.

Sayang sekali kami bisa mendengar bisikan itu karena kami semua berdiri di depan meja SIMAKSI. Di situ saya dan teman-teman merasa tidak nyaman sama sekali.

BACA: Estimasi Biaya Pendakian Gunung Gede: Transportasi, Konsumsi dan Simaksi

Kami disuruh harus mengikuti aturan yang ada: daftar online dan periksa kesehatan, sementara di waktu yang sama ada pendaki tetap bisa mendapat izin masuk hanya dengan sepotong kertas.

Kami pun sengaja berhenti sebentar, tidak langsung turun ke bawah untuk pemeriksaan kesehatan. Kami mau lihat, kapan si petugas akan memberikan izin kepada rombongan tadi untuk masuk kawasan TNGGP. Anehnya, si petugas tadi sengaja tidak mau mendaftarkan/mengizinkan rombongan tadi. Mereka dibiarkan menunggu seperti kami.

Calo SIMAKSI Gunung Gede
View Basecamp Gunung Putri (Foto: Satutenda.com)

Di situ kami sadar bahwa ternyata si petugas sengaja menunggu kami pergi dulu barulah ia mau menerima pendaftaran dan mengizinkan kelompok tadi memulai pendakian.

Kami sengaja bertahan di situ. Iseng-iseng teman bertanya ke salah satu anggota rombongan tadi, kebetulan sama-sama cewek, apakah mereka sudah melakukan pemeriksaan kesehatan.

Dengan polos, si cewek bilang mereka tidak melakukan pemeriksaan kesehatan. “Kami diurus oleh abang yang itu,” katanya sembari menunjuk ke cowok yang tak membawa barang bawaan tadi.

Teman saya bertanya lagi, “Emang kalau ngurus lewat dia bayar berapa?” Kata si cewek, “Kami membayar Rp 50.000/orang”.

Setelah mendapatkan informasi itu, kami turun ke bawah untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Di sana kami juga bertanya ke petugas di loket apakah ada kelompok pendaki sebelumnya yang sudah melakukan pemeriksaan kesehatan? Kata petugas, belum ada.

Saat kami balik lagi usai periksa kesehatan, rombongan tadi sudah tidak ada. Rupanya, mareka sudah diizinkan masuk.

Di situlah kami semakin yakin bahwa ternyata praktik calo SIMAKSI gunung Gede – Pangrango masih marak terjadi.

Sangat disayangkan, urusan SIMAKSI online yang sudah diumumkan dengan sangat detail di website Gunung Gede – Pangrango, www.gedepangrango.org, ternyata masih bisa dilanggar. Dan mirisnya lagi, petugas membiarkan hal itu terjadi.

BACA: Aturan Baru 2018 Simaksi Gunung Gede dan Gunung Pangrango

Saya membayangkan, ini baru satu peristiwa yang terjadi di Bulan Puasa dan hari kerja dimana tidak banyak pendaki yang mendaki Gunung Gede – Pangrango. Apa jadinya kalau Sabtu – Minggu atau hari libur, saat banyak pendaki yang mau mendaki gunung ini?

Saya yakin bahwa petugas TNGGP tahu praktik ini. Buktinya mereka tetap menerima mereka yang datang mendaftar membawa sepotong kertas.

Pengalaman yang saya tuangkan dalam tulisan ini setidaknya jadi masukan untuk pengelola TNGGP supaya segera berbenah. Bila perlu memutuskan, apakah masih perlu menggunakan SIMAKSI online atau menggunakan calo saja.

Atau, secara terbuka diumumkan bahwa SIMAKSI Gunung Gede – Pangrango bisa dilakukan melalui online dan calo, dengan detail harganya. Saya pikir itu lebih adil untuk semua pendaki.

Bila Anda ingin bertanya lebih detail atau memprotes artikel ini, silakan menuliskan komentar Anda di kolom komentar atau menghubungi kami di sini.

Bagikan Artikel Ini:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

2 thoughts on “Miris! Praktik Calo SIMAKSI Gunung Gede – Pangrango Masih Terjadi Meski Sudah Ada Aturan Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *