Satutenda.com
Image default

Touring Jakarta – Jogjakarta Lewat Jalur Paling Selatan Pulau Jawa

Jalur Paling Selatan, Satutenda.com – Bangun pagi di Cisantana adalah hal yang bikin hati sejuk. Mentari pagi muncul dari balik pepohonan, kicau burung bersahutan di kejauhan, serta daun-daun yang berduyun jatuh ke tanah, jadi momen paling sederhana yang bisa kita nikmati tanpa antara.

Usai beres-beres, kami kembali ke jalan untuk melanjutkan perjalanan ke Jogjakarta. Rute kami hari ini tak lagi melalui jalur Pantura. Kami melintasi jalur tengah langsung mengarah ke Purwokerto.

Mengambil jalan pedesaan membuat touring hari kedua ini punya cerita yang berbeda. Kalau kemarin di jalur Pantura, jalannya cenderung lurus dan panas, maka jalur yang kami lintasi hari ini berkelok dan sangat sejuk.

Keliling Indonesia Pakai Motor Matic
Foto: Satutenda.com

Perbukitan dengan kebun-kebun warga yang terbentang di sepajang sisi kiri dan kanan sangat memanjakan mata kami. Matahari yang tampak cerah sejak pagi membuat lekukan-lekukan bukit jelas terlihat.

Meski hanya melintas, suasana pedesaan jelas terasa. Orang-orang berkebun, anak-anak berlarian di tepian jalan, serta udara sejuk terus menanti di tikungan jalan.

Cileuya, Cibeureum, dan Cibening adalah beberapa di antara nama-nama desa yang kami lintasi, sebelum tiba di gapura perbatasan Jawa Barat – Jawa Tengah.

BACA: Pesona Wisata Waduk Sempor Gombong dan Kuliner Mendoan Maknyus

Masuk kawasan Jawa Tengah, kami langsung disambut tanjakan dan kelokan tajam Gunung Lio. Di sekitar sini ada sejumlah lokasi wisata, yang bisa kita nikmati. Misalnya, camping di puncak Gunung Lio atau mengunjungi Kalibaya Park.

Selepas Gunung Lio, kami dihadapkan pada turunan tajam menuju Salem. Rindang pepohonan dan lagi-lagi aroma pedesaan masih terus mewarnai petualangan kami di hari kedua ini.

Tentang Bumiayu

Touring Melintasi Jalur Tengah Kuningan - Bumiayu
Foto: Satutenda.com

Bumiayu, nama sebuah kecamatan yang unik di Kabupaten Brebes. Bumiayu merupakan pusat aktivitas orang-orang Brebes bagian selatan. Maka tak heran, kota ini tampak sangat sibuk ketika kami tiba jelang makan siang.

Tak berlama-lama di situ, kami langsung mengarah ke Ajibarang. Semula kami mau mampir ke Purwokerto. Tapi, karena dapat kabar di sana hujan, maka kami mengarahkan stang motor ke selatan, melintasi jalan raya yang membelah Cilacap dan Banyumas.

Di daerah Banyumas, kami berhenti untuk makan siang. Dari si empunya warung kami disarankan mengambil jalur ke Adipala, lalu melintasi jalur paling selatan Pulau Jawa hingga masuk Jogjakarta.

Jalur ini menyusuri tepian pantai. Maka kami tak sia-siakan kesempatan itu untuk main ke pantai. Pantai Jetis Cemara Sewu adalah salah satunya.

Kala kami meninggalkan Pantai Jetis Cemara Sewu, hari sudah kian sore sekitar pukul 16.00. Ada banyak sekali destinasi wisata lain di sepanjang jalan ini. Tapi waktu tak lagi memungkinkan untuk kami kunjungi semuanya.

Touring Ke Pantai Jetis Cemara Sewu
Foto: Satutenda.com

Lagi pula, tanjakan dan turunan di sepanjang Pantai Manganti dan Karangbolong mengharuskan kami untuk melewatinya sebelum gelap bertandang.

Kala matahari memerah di tepi barat, sampailah kami di trek panjang nan lurus. Jalur Pantai Selatan Jawa – Urut Sewu, namanya. Jalur yang terbentang lurus dan mulus ini membuat kami teramat nyaman untuk memacu kecepatan motor hingga maksimal.

Malam sibuk di Kulon Progo

Masuk kabupaten Kulon Progo, hujan deras mengguyur.

Di sejumlah warung yang kami singgahi untuk ngopi dan sejenak rehat banyak sekali pekerja Bandara Kulon Progo yang sedang makan malam. Sebagian baru kelar jam kerja, sebagian lagi akan masuk sift malam.

Kata mereka, pengerjaan Bandara Internasional Kulon Progo sedang digenjot habis-habisan. Rencananya, Bandar udara yang berdiri di tanah Kecamatan Temon seluas 600 hektar, dengan biaya pembangunan sekitar 9 triliun itu akan diresmikan pada Februari 2020.

Di pemberhentian selanjutnya, di sebuah warung makan, kami ketiban berkah. Seorang pemuda yang tak kami kenal, ketika tahu kami sedang touring ia menawari kami makan malam kemudian membayar semuanya. Untukmu yang tidak sempat berkenalan, kami hanya bilang: terima kasih.

Begitulah sebuah petualangan. Ada banyak kemungkinan terus terjadi. Bahkan kandang di luar dugaan. Kuncinya cuma satu. Buka hati dan pikiran tuk terima segala kemungkinan itu.

Lihat, di timur ada fajar, di barat ada senja. Dan kita adalah orang-orang yang dibesarkan keduanya. Tapi mereka tak pernah saling jemawa, siapa yang paling berjasa. Maka jangan tunjuk kamu timur atau barat, siang atau malam. Kita adalah petualang, yang sedang menjelajah dengan cara kita masing-masing.

@steveelu_

Terima kasih, salam meliuk…

Saksikan videonya di YouTube Satutenda.com:

ARTIKEL TERKAIT:

Di Pos Berapa Bisa Mendirikan Tenda Saat Mendaki Gunung Slamet via Gunung Malang?

Tiwie Pert

Mengunjungi Tebing Batu Eksotis Kelebba Maja di Pulau Sabu, NTT

Tiwie Pert

Ini Buktinya Kalau Mendaki Gunung Slamet via Gunung Malang Tak Semudah yang Dibayangkan

Tiwie Pert