Satutenda.com
Image default

Touring Jogjakarta – Jakarta Lewat Bandung hingga Jonggol Pakai Motor Matic

Motor Matic, Satutenda.com – Subuh itu, motor matic mio soul GT saya pacu menyisir lekukan-lekukan Sungai Serayu, yang punya kisah unik, setidaknya untuk saya. Secara pribadi, saya bersentuhan langsung dengan Serayu tiga tahun silam, kala saya melintasinya malam-malam, di bawah hujan.

Tujuan kami pagi ini adalah Bandung, lalu Jakarta.

Kabut tebal di Lumbir dan sekitarnya jadi tamu fajar di setiap tanjakan dan tikungan jalan. Jarak pandang yang cukup terbatas dan truk-truk besar mulai tampak di sepanjang perjalanan, membuat kami harus sangat berhati-hati.

Inilah resiko di perjalanan, apalagi touring. Meski tidur cuman sebentar tapi kalau sudah di atas motor segala kantuk dan lelah harus dihalau jauh-jauh.

BACA: Touring Jakarta – Jogjakarta Lewat Jalur Paling Selatan Pulau Jawa

Turun-turun Karangpucung, matahari mulai terlihat di timur. Denyut kota kembali terasa meski tampak santai. Orang-orang bersepeda santai menikmati minggu pagi yang cerah. Ini adalah hiburan gratis bagi penyuka petualangan, seperti saya.

Semoga hari-hari kita selalu menyenangkan. Singkirkan semua gerutu, simpan semua kalut. Biarkan hari ini menceritakan kebaikan-kebaikan yang ada padanya untukmu. Siapa tahu kamu adalah orang paling beruntung untuk memperoleh beberapa di antaranya.

Tiba di Bandung

Setelah bermacet-macet ria, sampailah kami di Terowongan Lingkar Nagrek, Bandung. Tahun lalu, saya melintasi jalan ini juga, tapi pas malam hari sehingga tidak terlihat jelas.

Siang ini saya bisa melihatnya dengan lebih jelas, juga bisa merekamnya buat kalian yang terus mendukung SATUTENDA sampai sekarang.

Terowongan Nagrek jadi salah satu tempat favorit bagi orang-orang untuk selfie dan swafoto. Tak heran waktu lebaran tahun lalu, sempat keluar larangan tidak boleh memotret di terowongan karena bikin macet dan membahayakan pengguna jalan yang lain. Polisi dan Satpol PP diterjunkan untuk mengawasi hal ini.

Kami masuk kota Bandung, jelang makan siang. Kota yang pernah dijuluki lautan api itu sedang padat-padatnya. Kemacetan panjang membuat pergelangan tangan terasa sangat pegal.

Menjelang sore, saat mengarah ke Cianjur, rasa kantuk sangat menyiksa. Rasanya kami tak bisa memaksakan diri. Maka, hammock yang sudah saya siapkan sebagai salah satu perlengkapan touring saya manfaatkan.

Bangun-bangun sudah jam empat lebih. Segera kami pacu motor untuk melanjutkan perjalanan. Di Cianjur semua orang yang bepergian saat weekend kembali ke rumah masing-masing. Sehingga jalanan yang terhitung luas tak juga bisa menampung motor dan mobil yang berjubel.

Untuk menghindari macet kami mengambil jalan kampung untuk mengarah ke Jonggol. Sialnya ban belakang motor saya kena paku dan gembos. Hadiah yang tidak menyenangkan sama sekali di hari yang sudah mulai gelap.

Setelah dibereskan tukang tambal ban termasuk menjelaskan jalur yang lebih singkat kami kembali gas motor.

Pergelangan tangan sudah terasa pegal pantat juga perih. Ingin segera sampai di rumah. Sejauh-jauhnya kita pergi, kata orang, rumah adalah tempat terindah yang selalu mengundang kita untuk pulang.

Di rumah banyak kenang kita tulis, banyak mimpi kita lukis, juga banyak lirih kita ukir. Dan di atas segalanya dia adalah hidup-mati kita, siang-malam kita. Di dalamnya, kita berulang menanak rahasia jadi bahagia.

@steveelu_

ARTIKEL TERKAIT:

Touring Jakarta – Jogjakarta Pakai Motor Matic Mio Soul GT

Steve Elu

Pesona Wisata Waduk Sempor Gombong dan Kuliner Mendoan Maknyus

Admin

Traveling Team Satutenda Ke Wisata Telaga biru dan Tebing Koja. Mudah dan Murah Meriah

Edeltrudizh